Sabtu, 03 Maret 2018

PT RAPP Jaga Komitmen Dana USD 100 Juta Untuk Restorasi Ekosistem

 
Focus Reza - PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) bisa menjadi contoh bagi siapa saja di Indonesia. Mereka tidak hanya mengejar profit belaka, namun memiliki kepedulian terhadap lingkungan yang besar. Salah satunya terkait kelestarian alam. Tentang hal ini, komitmen PT RAPP untuk program restorasi ekosistem di Riau masih terjaga.
 
RAPP Riau merupakan unit operasional Grup APRIL. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Hal itu beralasan ketika melihat kapasitas produksi mereka. Per tahun, APRIL sanggup memproduksi pulp sebanyak 2,8 juta ton dan kertas hingga 850 ribu ton.
 
Kunci keberhasilan APRIL dalam meningkatkan produksinya tak lepas dari kemampuan untuk mendapatkan bahan baku. Dalam hal ini, mereka tidak pernah memperoleh kayu yang dijadikan pulp dan kertas dari alam. Mereka memiliki perkebunan sendiri yang menjadi sumber fiber.
 
APRIL menyerahkan pengelolaan perkebunan sekaligus produksi pulp dan kertas kepada Riau Andalan Pulp & Paper. PT RAPP akhirnya bekerja sama dengan sekitar 40 mitra pemasok jangka panjang dalam merawat perkebunan seluas 476 ribu hektare yang dimiliki.
 
Berkat itu, sekitar 79 persen kebutuhan fiber perusahaan sudah terpenuhi. Sisa bahan baku lain yang diperlukan akhirnya didapatkan dari para mitra pemasok jangka pendek yang ada di Sumatera, Kalimantan, serta Malaysia.
 
Tentu saja pengelolaan perkebunan dijalankan dengan prinsip-prinsip berkelanjutan yang ramah terhadap alam. Begitu pula dengan bahan baku dari mitra pemasok jangka pendek. Semuanya diwajibkan oleh RAPP Riau agar diperoleh dengan bertanggung jawab seperti tidak berasal dari penebangan liar ataupun hutan alam yang dilindungi. Jika tidak, mereka pasti tidak akan menerimanya.
 
Bersamaan dengan itu, Riau Andalan Pulp & Paper juga ikut mendukung kegiatan restorasi ekosistem di Riau. Mereka melakukan dukungan penuh terhadap Restorasi Ekosistem Riau (RER) sejak 2013.
 
RER merupakan upaya kolaboratif dari berbagai pihak mulai dari swasta dan pemerintah untuk memulihkan dan melindungi kawasan hutan gambut di Semenanjung Kampar, Riau. Area itu sejatinya merupakan daerah dengan nilai ekologis tinggi, namun sudah terdegradasi. Hal itulah yang mendorong upaya RER sebagai bentuk restorasi dan konservasi.
 
Induk perusahaan RAPP Riau, APRIL, mulai mendukung RER sejak 2013. Mereka mencanangkannya dan bekerja sama dengan sejumlah pihak sebagai pelaksana. Mitra tersebut dikenal sebagai pihak-pihak yang kompeten dalam perlindungan dan restorasi alam, yakni Fauna & Flora International (FFI) dan Bidara. 
 
Untuk mendukung program restorasi ekosistem di Riau tersebut, APRIL berinvestasi besar. Mereka menggunakan izin eco-restoration selama 60 tahun dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai payung hukum. Namun, bukan hanya itu. APRIL juga mengeluarkan dukungan dana yang besar.
 
Lihat saja, induk usaha PT RAPP ini berani berkomitmen untuk mengucurkan uang hingga 100 juta dolar Amerika Serikat untuk mendukung RER. Dana itu dapat digunakan untuk merestorasi dan melindungi lahan seluas 150 ribu hektare di Semenanjung Kampar.
 
Setelah lima tahun berlalu, komitmen tersebut rupanya masih dijaga. Program restorasi ekositem di Riau tetap berlangsung dengan lancar. Hal itu tidak mungkin terjadi tanpa dukungan dana sesuai yang dijanjikan.
 
Buahnya juga mulai terlihat. Saat ini, kondisi hutan gambut di Semenanjung Kampar semakin membaik. Keanekaragaman hayati di sana perlahan-lahan pulih seperti sedia kala.
 
Ada banyak bukti yang dapat diajukan sebagai indikasi kawasan terdegradasi telah pulih. Salah satunya adalah keberadaan berbagai jenis spesies fauna. Belakangan di sana ditemukan berbagai jenis binatang langka yang sebelumnya diperkirakan telah punah.
 

BUAH POSITIF PROGRAM RESTORASI EKOSISTEM

 
 
Salah satu contoh terlihat dari laporan RER pada akhir tahun 2017. RER bisa menunjukkan sejumlah bukti bahwa terdapat spesies burung yang terancam punah terdeteksi hidup di kawasan Semenanjung Kampar.
 
Sebelumnya riset sudah dilakukan untuk mendata spesies burung di area cakupan RER selama 2017. Mereka menemukan bahwa 299 spesies burung yang terdapat di Semenanjung Kampar.
 
Hasil ini sangat luar biasa. Pada 2004, Birdlife International melaksakan kegiatan serupa di area yang sama. Waktu itu, temuan mereka hanya 128 spesies burung. Ini berarti ada peningkatan hingga 133 persen pada saat ini.
 
RER menyebutkan dari 299 spesies yang terdata, ada 241 spesies atau sekitar 81 persen di antaranya merupakan penghuni asli Semenanjung Kampar. Sedangkan sebanyak 49 spesies atau 16 persennya termasuk burung migrasi. Sementara itu, asal daerah spesies lainnya yang tersisa tidak bisa ditentukan.
 
Fakta ini dianggap sebagai sebuah bukti bahwa kawasan hutan gambut Semenanjung Kampar mulai pulih seperti sedia kala. Jika tidak, burung-burung tidak akan mudah ditemui lagi di sana.
 
“Keberadaan hutan yang luas dalam jangka panjang menghadirkan ekosistem yang sehat bagi sejumlah spesies burung yang sensitif. Hutan yang lebat itu membantu spesies tertentu mengatasi gangguan dan dampak negatif seperti keberadaan manusia ataupun kebisingan,” ucap Conservation Officer RER Prayitno Goenarto.
 
Akan tetapi, program perlindungan alam yang dilakukan PT RAPP bukan hanya mencakup restorasi ekosistem. Ada kegiatan lain yang mereka lakukan. Salah satunya RAPP Riau malah berani mencanangkan program yang belum pernah dilakukan oleh pihak lain. Mereka menggulirkan kegiatan yang dinamai sebagai Satu Banding Satu.
 
Program ini merupakan komitmen dari PT RAPP dalam melakukan konservasi hutan. Mereka berjanji akan melindungi lahan seluas yang digunakan untuk produksi. Sebagai contoh, ketika memakai satu hektare untuk proses produksi, maka bakal ada ada lahan seluas satu hektare pula yang dikonservasi atau direstorasi.
 
Komitmen Satu Banding Satu dijalankan secara serius oleh RAPP. Saat ini, mereka tengah mengejar target untuk mewujudkannya dengan nyata. Karena lahan yang mereka gunakan untuk produksi mencapai 476 ribu hektare, maka harus ada pula hutan seluas yang sama yang harus dilindungi.
 
Namun, perkembangan program Satu Banding Satu tampak berjalan sesuai rencana. Luas lahan yang dikonservasi dan direstorasi dari waktu ke waktu semakin meningkat.
 
"Kami akan terus berupaya memenuhi komitmen perusahaan untuk mengkonservasi satu hektare untuk setiap hektar hutan tanaman. Saat ini telah mencapai 83% atau 419.000 hektare hutan yang saat ini dikonservasi dan restorasi," ujar Corporate Affairs Director RAPP Agung Laksamana di Sindonews pada Desember 2017.
 
RAPP Riau melakukannya karena yakin bahwa keseimbangan antara perlindungan alam dan produksi bisa terjadi. Menurut mereka hal itu justru sebuah keniscayaan. Tanpa itu, bisnis malah tidak akan berkembang.
 
"Kami percaya bahwa pendekatan yang seimbang antara perlindungan lingkungan dan kegiatan produksi memberikan hasil nyata, baik bagi  pertumbuhan ekonomi dan sosial di tingkat provinsi hingga pedesaan," tambah Agung. 
 
Prinsip ini selalu dipegang oleh Riau Andalan Pulp & Paper. Tak aneh, komitmen dana untuk restorasi ekosistem di Riau tetap mereka jaga hingga kini. Sebab, perlindungan terhadap alam merupakan bagian dari operasionalnya.

Related Posts

0 komentar: