Rabu, 22 Agustus 2018

Perusahaan Sukanto Tanoto Kembangkan Pengusaha Lokal di Pangkalan Kerinci

Focus Reza - Pangkalan Kerinci merupakan kecamatan yang juga jadi ibukota kabupaten Pelalawan, Riau. Sementara itu kabupaten Pelalawan sendiri sebetulnya merupakan kabupaten muda hasil dari pemekaran dari kebupaten Kampar di tahun 1999. Selain itu, Pangkalan Kerinci juga jadi kecamatan yang paling kecil yang memiliki luasan sekitar 19.355 hektar, atau sekitar 1.39% dari luasan kabupaten Pelalawan. Pangkalan Kerinci jadi pusat ekonomi di kabupaten Pelalawan. Di kota inilah masyarakatnya punya berbagai sumber pencarian seperti berkebun, bertani, dan juga masih ada banyak lagi. 

Selain hal tersebut, juga ada beberapa pengusaha lokal yang sukses di kota ini. Mereka adalah penduduk asli Pangkalan Kerinci yang punya berbagai usaha untuk penuhi kebutuhan hidupnya setiap hari. Salah satunya adalah H. Zamhur yang memiliki usaha pembuatan palet kayu. Usaha yang dirintisnya tersebut bisa hidupi keluarganya dengan baik. Bahkan ia mendirikan pabrik kecil pembuatan palet kayu di tahun 2001. Namun untuk mengetahui informasi lebih lanjut, silakan simak beberapa ulasannya di bawah ini.


Ya, usaha yang dijalankan oleh Zamhur ini adalah palet kayu yang dibuat khusus untuk pesanan PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang merupakan anak bisnis grup Royal Golden Eagle yang didirikan oleh Sukanto Tanoto. Zamhur berkata bahwa dirinya masih salah satu bagian dari mitra binaan lewat program “Community Development”. Dari RAPP tersebut ia mendapat pembinaan, cara kerja yang baik, dan alat – alat kerja.  

Ayah yang memiliki 9 anak tersebut juga menjelaskan bahwa sekarang ini yang jadi kendala di usahanya tersebut adalah bahan baku kayu. “Apabila dulu ia bisa mengelola hingga 100 kubik kayu, namun sekarang ia hanya bisa kelola dari 2 – 3 kubik kayu saja. Dulu keberadaan kayu memang masih banyak sekali, namun sekarang kayu sudah habis. 3 kubik kayu tersebut biasanya bisa jadi 100 palet. Diproduksinya sesuai pesanan RAPP. Tergantung order, kemudian satu bulan 5.000 – 10.000 lembar palet. Kayu yang digunakan adalah jenis kayu akasia atau sengon,” begitu ungkapnya.

Zamhur juga berharap agar PT. RAPP bisa berikan kayu – kayunya untuk kemudian diolah di pabrik kecilnya tersebut. Akan tetapi menurut informasi yang ia dapatkan, bahan baku kayu untuk sekarang ini masih sangat sulit sekali untuk didapatkan. Tak jauh berberda dengan Zamhur, Sulaiman pun juga merintis usahanya di Pangkalan Kerinci untuk kebutuhan PT. RAPP yang didirikan oleh Sukanto Tanoto. Sulaiman ini memiliki usaha pengelolaan sabut kelapa hingga jadi cocopeat, media tanam untuk bibit pohon akasia serta ekaliptus. 

Kedua jenis pohon tersebut adalah bahan baku pembuatan bubur keras dan kertas. Sulaiman jadi mitra binaan PT. RAPP sejak tahun 2013. Pesanan pertama yang ia terima adalah 30 ton cocopeat dan kini sudah mencapai sekitar 600 ton per bulan. Tapi demikian ada satu kendala yang kerap kali menghampiri usahanya tersebut, yakni cuaca yang tak menentu. Sebab cocopeat ini diolahnya masih gunakan tenaga matahari untuk proses pengeringannya. 

Untuk siasati hal tersebut, Sulaiman juga punya pabrik di Lampung. Ia mengakalinya dengan dua lokasi yang ia punya, yakni di Pangkalan Kerinci dan Lampung. Jika musim hujan tiba, ia bisa putar – putar ke dua tempat tersebut untuk proses pengeringannya. Mengenai omset, Sulaiman mengaku sekarang ini dirinya hanya ambil margin sekitar Rp 100 per kg. dalam satu bulannya ia bisa dapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 30 juta rupiah.

Related Posts

0 komentar: