Sabtu, 23 November 2019

Meneruskan Liburan Bandung-Medan, kini Medan-Banda Aceh

Focus Reza - Selain punya kerabat di Kota Medan, ada juga beberapa keluarga saya yang tinggal di Banda Aceh. Nah, jadi, perjalanan kami dengan bus pun tidak berhenti sampai di Medan. Setelah beberapa hari istirahat sambil menikmati Kota Medan yang sudah lama tidak saya kunjungi, mungkin sudah 5 tahun kali ya! 

liburan medan-banda aceh

Nah, dari Terminal Terpadu Amplas Kota Medan, saya pun naik bus yang sama, yakni bus Putra Pelangi. Ya, habisnya mau gimana lagi? Busnya sudah terlanjur nyaman dan jadi favorit kami. 

Perjalanan ke Banda Aceh sebenarnya tidaklah terlalu lama. Tentunya tidak selama perjalanan kami dari Bandung, yang memakan waktu sampai 2 hari penuh. Medan – Banda Aceh bisa ditempuh hanya dalam waktu 7-10 jam saja, tergantung dari kondisi cuaca dan juga kemacetan dalam perjalanan. Tapi kan ini bukan Pulau Jawa yang padat penduduk dan juga bukan musim mudik. Jadi, kami yakin perjalanan ini akan menempuh waktu tercepat, yakni 7 jam. 

Nah, kami berangkat dari Medan pukul 7 pagi. Entah kenapa, saya memang lebih suka melakukan segalanya di pagi hari, karena masih fresh. Setelah sebelumnya saya bersama istri, kali ini saya membawa rombongan yang lebih banyak lagi. 

Ibu, bapak, kakak, dan adik saya pun ikut serta dala perjalanan kali ini. Mereka sendiri sebenarnya belum pernah naik Putra Pelangi, dan bersikeras ingin naik kendaraan pribadi saja. Namun, saya justru khawatir kalau naik mobil pribadi, karena saya tidak bisa mengemudi dan ayah saya sepertinya sudah terlalu tua untuk perjalanan jarak jauh. 

Jadi, saya pun memutuskan bahwa kami semua harus naik bus. Dan karena saya baru saja naik bus yang saya rasa begitu nyaman, maka saya memutuskan untuk naik bus yang sama, yakni Putra Pelangi, seperti yang sudah saya ceritakan tadi. 

liburan medan-banda aceh

Berangkat jam 7 tepat, kami pun mulai perlahan meninggalkan Kota Medan. Dalam perjalanan, saya baru ingat bahwa ibu saya adalah orang yang tidak bisa naik bus, karena dia pasti bakal mual dan muntah-muntah. 

Waduh, pikir saya. Gimana ya? Bisa repot dong. Selama perjalanan pun saya memperhatikan ibu saya. Sesekali dia minta minum teh hangat yang kami bawa dalam termos. Tapi ternyata ibu saya tidak mengeluhkan mual yang parah. Memang, dia bilang kepalanya sedikit pusing, tapi katanya itu biasa. Karena ketika naik mobil pun dia merasakan pusing yang sama. 

Bus pun tetap meluncur ke utara menuju Banda Aceh. Dalam perjalanan ini kami berhenti sekali di sebuah restoran padang yang cukup besar. Karena tempat makannya bersih dan menunya beragam, saya pun sampai lupa diri dan makan cukup banyak, ditambah dengan kerinduan saya dengan masakan padang asli, agak sulit lho nemu masakan padang yang rasanya seperti ini di perantauan. 

Kenapa saya suka masakan padang? Ya, karena masakan padang memang sudah menjamur dan seakan menjadi khas dari Sumatera itu sendiri. Saya sendiri suka dengan masakan khas Batak, tapi masakan khas daerah saya lebih cocok untuk dimakan dalam acara tertentu karena bumbunya kuat sekali, jadi kalau untuk kebutuhan makan sehari-hari, saya lebih suka makanan padang. 

Nah, setelah makan, seperti yang bisa saya duga, saya kekenyangan. Ditambah dengan bus yang super nyaman, saya pun ketiduran. Saya hanya sesekali bangun dan memperhatikan keluarga saya yang lainnya, ternyata mereka pun sama, ketiduran. 

Sekitar jam 2 siang, saya terbangun dan melihat sekitar, saya sendiri tidak hafal seperti apa Banda Aceh. Tapi sepertinya sih sudah masuk Kota Banda Aceh karena aktivitas warganya mulai terlihat lebih padat dan jalannya lebih besar. 

Benar saja, tak lama kemudian masuklah kami ke Terminal Bus Batoh, yakni terminal di Kota Banda Aceh. Terminal yang besar ini mampu menampung banyak sekali bus. Dan saya, seperti biasa, sudah menghubungi saudara di Banda Aceh agar menjemput kami. Perjalanan pun terbilang tepat waktu, yakni dari jam 7 pagi hingga 2.30 sore. Ya, terlambat 30 menit itu kan wajar, namanya juga perjalanan jauh.

Related Posts

0 komentar: