Selasa, 02 Juni 2020

Membalas Kegigihan Wagiman

Focus Reza - Mengetahui adanya kompetisi cerita inspiratif dari Asuransi Syariah Indonesia Allianz yang berhadiah umrah gratis, saya teringat sosok Wagiman. Ia adalah sosok yang menurut pendapat saya pantas mendapatkan kesempatan umrah sebagai balasan dari kegigihannya untuk menghidupi keluarga kecilnya.  

Wagiman adalah seseorang yang tinggal tak jauh dari rumah saya. Kami hanya terpisah beberapa ruas jalan dan beda RT. Namun, kami sering berjumpa dan terlibat dalam beberapa acara, terutama acara masjid.  

Saya mengenal Wagiman sebagai seorang laki-laki yang cukup pendiam dengan ketekunan yang luar biasa. Ia bukan pemuda yang banyak tingkah dan cenderung taat aturan. Terlebih, ketika ia sudah menikah dan dikaruniai anak, ketekunan dan kegigihannya bertambah-tambah. 

Sebelum pandemi covid-19, ia bekerja sebagai salah satu karyawan di salah satu pabrik pelek yang ada di desa kami. Entah berapa gaji yang ia dapatkan dalam satu bulan. Namun, ia tak tampak mengeluh dengan pendapatan yang ia terima. Namun, selain menjadi karyawan, Wagiman juga mengajar mengaji anak-anak tetangga dengan imbalan ala kadarnya. 

“Siapa tahu bisa jadi amal di akhirat kelak”, katanya ketika saya bertanya terkait kegiatan mengajar mengaji tersebut. Meskipun orang tua tetangga tersebut sering telat membayarkan upah, namun ia juga tak mempermasalahkan. Baginya, kegigihan dalam bekerja harus dibarengi dengan ketulusan.
“Toh, jika sudah rezeki, pasti akan sampai kepada penerimanya”, katanya. 

asuransi syariah indonesia

Pandemi Mengubah Segalanya 

Covid-19 yang menyerang Indonesia berdampak pada kondisi keluarga Wagiman. Ia termasuk salah satu karyawan yang sengaja disuruh libur oleh pabrik tempat ia bernaung bersama beberapa karyawan lainnya. Otomatis, pendapatan utama untuk menghidupi keluarganya pun berkurang sangat drastis. Apalagi, ia bukan seorang yang berada. 

Namun, Wagiman memang terlahir sebagai seorang yang gigih dan mau berusaha. Kehilangan pekerjaan sebagai karyawan sementara membuatnya banting stir untuk berjualan makanan. Ia menjual pempek yang dibuat bersama istrinya.  

Memiliki keterbatasan biaya, ia memasarkan pempek yang dibuat melalui media sosial. Tidak jarang, ia harus rela COD dengan pembeli yang cukup jauh untuk satu atau dua porsi pempek saja. Namun, baginya, dagangan yang laku tentu lebih penting daripada sekadar peluh yang menetes. 

Di tengah keterbatasan ekonomi yang ia derita karena pandemi, Wagiman tetap berusaha untuk memberikan hal terbaik untuk buah hatinya. Ia memang tidak bisa membelikan aneka mainan sebagaimana orang tua lainnya, ataupun membelikan pakaian yang sedang menjadi trend. Namun, ia bertekad untuk mengajarkan Islam kepada anaknya sejak dini. Tak mengherankan jika ia melatih anaknya yang belum genap 5 tahun memakai jilbab sejak dini. Ia juga cenderung membelikan buku-buku cerita Nabi daripada mainan untuk anaknya. 

Dari sosok Wagiman, saya belajar bagaimana hidup harus dijalani dengan penuh kegigihan dan pantang menyerah kepada kondisi yang bisa berubah sewaktu-waktu. Selain itu, hidup memang harus menerima apa yang sudah digariskan, setelah melakukan usaha yang maksimal. Tentu, meskipun secara teori sangat mudah diucapkan, dalam praktik, belum ada jaminan kita bisa melakukannya dengan baik.  

Bisa jadi, kisah Wagiman, sosok yang sangat gigih dan penuh tanggung jawab adalah salah satu cerita kehidupan dari orang-orang terdekat Anda. melalui produk Asuransi Syariah Allianz, Anda bisa mengikuti gerakan #AwaliDenganKebaikan dengan membagikan kisah penuh inspirasi orang-orang sederhana yang hebat tersebut melalui platform blog dan membuatnya mendapatkan kebahagiaan baru dengan berangkat umrah gratis.

Related Posts

0 komentar: